Categories

Senin, 27 Juni 2011

Dunia Cendekiawan dan Realita

Bung Hatta pernah berpesan dalam pidatonya di Universitas Indonesia tahun 1957:
Kaum intelegensia tidak bisa bersifat pasif, menyerahkan segala-galanya pada mereka yang kebetulan mensusuki jabatan yang memimpin dalam Negara dan masyarakat. Kaum intelegensia adalah bagian daripada rakyat, warga Negara yang sama-sama mempunyai hak dan kewajiban. Dalam Indonesia yang berdemokrasi, ia ikut serta bertanggung jawab tentang perbaikan nasib bangsa. Dan sebagai warga Negara yang terpelajar, yang tahu menimbang baik dan buruk, yang tahu menguji benar dan salah dengan pendapat yang beralasan, tanggugn jawabnya adalah intelektuil dan moril. Intelektuil karena mereka dianggap golongan yang mengetahui, moril karena masalah ini mengenai keselamatan masyarakat sekarang dan kemudian.[1]
Dari pidato beliau, tertanam begitu dalam pesan kepada kaum intelektual bahwa sepahit apapun itu kebenaran, katakanlah dan perjuangkanlah. Karena itu sudah konsekuensi langsung bagi orang yang mengetahui lebih dari sebangsanya.
Dengan daya pengaruh yang lebih, kaum intelektual memanggul beban terberat dalam rangka mewujudkan realisasi tujuan kita berbangsa dan bernegara. Untuk itulah menjadi suatu kewajiban mendasar bagi mereka untuk berembug, berjuang mewujudkannya sebagai masyarakat dan sebagai warga Negara.
Sebagai kader bangsa mereka dibebankan tugas kebangsaan dan tugas kenegaraan, dan sebagai kader umat mereka menanggung tanggung jawab untuk memastikan umat mendapatkan kebutuhannya yang paling mendasar, yaitu: kepercayaan.
Maka dalam hal ini HMI bertindak sebagai civil society yang berorientasi pada perjuangan kepada paradigma modernisasi dan dependensia.[2]Bahwa di satu sisi HMI sebagai organisasi yang berjuang dengan orientasi pada pemberdayaan masyarakat.Di sisi lain HMI dalam indepedensinya adalah organisasi yang berorientasi pada struktur. HMI dengan indepedensinya siap mengawal dan mengkritisi setiap kebijakan yang diambil oleh pemerintah terkait harkat hidup orang banyak.
Sedikit menyederhanakan pembahasan di atas bahwa yang akan berdiri sebagai penakluk zaman ini adalah mereka yang hidup dengan kepribadian kuat, mampu mempertahankan identitas pribadinya di tengah globalisasi dengan tetap menyesuaikannya dengan perkembangan actual. Orang – orang seperti ini akan menjadikan ilmu pengetahuan sebagai kendaraannya dengan tetap teguh memegang kepercayaannya. Selanjutnya, kumpulan masyarakat dengan orang – orang semacam ini akan mewujudkan keadaan sosial yang demokratis, setara, terbuka dan kental dengan semangat kebebasan.
Dan tugas kitalah sebagai insan intelektual untuk mewujudkannya.
GO FREEDOM!!!

[1] Kebebasan Cendekiawan, 1996, Jakarta: Republika, hal: viii
[2] Mansour Fakih, 1996, Masyarakat Sipil Untuk Transformasi Sosial, Yogyakarta: Tiara Wacana, hlm 121-136

Insan Cita dan Potensi Solutif



Terdapat tiga kualitas atau dimensi yang tergambarkan dalam tujuan HMI, yaitu:
Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi = kualitas pribadi sebagai mahasiswa. Sebagai seorang mahasiswa seorang kader HMI adalah kader yang berpendidikan tinggi, tekun dalam belajar sehingga dapat mengembangkan kemampuan ilmiahnya.
Bernafaskan islam… yang diridoi oleh Allah SWT = kualitas keislaman. Seoarang kader HMI merupakan hamba Allah SWT yang zuhud dan tawadhu, taat beribadah sehingga berpengaruh dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara baik secara individu, komunal ataupun organisasi.
Bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur = kualitas kebangsaan (sebagai civil society). Masyarakat merupakan lahan bagi kader HMI untuk mengabdi, segala apa yang sudah dipelajari di HMI perlu diaplikasikan dalam ranah masyarakat atau negara.
Lima Kualitas Insan Cita
· Kualitas Insan Akademis, maknanya ia harus berpendidikan tinggi, bepengetauan luas, mampu berpikir rasional dan kritis. Ia mempunyai kemampuan teoritis dan mampu memformulasikan apa yang ia ketaui dan dirasakan
· Kualitas Insan Pencipta, maknanya antara lain sebagai insan yang jiwanya penuh dengan gagasan kemajuan, selalu mencari perbaikan dan pembaruan
· Kualitas Insan Pengabdi, maknanya adalah insan yang sadar bahwa tugasnya bukan hanya mengabdi buat dirinya sendiri, namun juga membuat kondis sekelilingnya menjadi baik.
· Kualitas Insan Bernafaskan Islam, singkatnya insan telah berhasil membentuk kepribadian menyeluruh secara islami
· Kualitas Insan yang bertaggung jawab terhadap masyarakat adil dan makmur yang di Ridoi oleh Allah SWT. Insan yang berorientasi pengabdian pada masyarakt dan memperjuangkan hak-hak masyarakat.
Kelima kualitas tersebut menjadi patokan atau standar bagi kader-kader HMI. Kendati demikian HMI tidak begitu bertanggungjawab atau memberikan garansi bahwa orang-orang yang masuk HMI akan memenuhi kualitas di atas. Hal tersebut dikembalikan kepada individu atau kepribadian kader itu sendiri.Hal ini dikarenakan bahwa HMI bukanlah satu-satunya patokan dari pegangan kehidupan kader HMI. Tidak banyak tanggungjawab yang HMI patok kepada kadernya menjadi tanggungjawab mission atau tujuan HMI sendiri, hal ini dikarenakan dalam tujuan HMI hanya bertuliskan redaksi “terbinanya” bukan “membina”.
Seperti tesis pertama makalah ini bahwa kemakmuran dan kemajuan hanya akan bisa terwujud jika diawali dengan kemajuan individu. Dari kemajuan individu ini nantinya akan mengakibatkan hubungan saling memotivasi secara sadar ataupun tidak sadar untuk lebih berkembang dan tentu saja bergerak progresif menuju kemajuan.
Hal ini akan jauh lebih signifikan jika masing-masing individu yang kuat menggunakan kekuatannya untuk berpartisipasi menguatkan yang lain. Hubungan antar masyarakat dengan pola semacam inilah yang kemudian menciptakan masyarakat madani yang progresif namun sarat dengan semangat persaudaraan.
Hal inilah yang dengan terang-terangan dijadikan tujuan HMI. HMI telah memproklamasikan bahwa ia berdiri untuk mewujudkan keadaan dimana insane akademis terbina menjadi manusia dengan kualitas Insan Cita, lengkap dengan lima kualitas dasar yang harus dimilikinya.

I am Indonesian!!!



Setelah sekitar tiga abad bangsa-bangsa di kepulauan Nusantara ini berada dibawah satu kuasa administrative yang begitu dominan, ahirnya Pax Nierlandica antar bangsa-bangsa tersebutpun muncul. Pax Nierlandica tersebut tumbuh subur mengakar dalam kehidupan bangsa-bangsa terssebut hingga mengkristal menjadi suatu identitas pemersatu. Dan dibawah otoritas suprematis Negara Hindia Belanda inilah kemudian mengendapkan identitas kebangsaan sebagai bangsa yang satu dengan sebutan Indonesia.
Kesadaran nasional membuncah ke segala penjuru setelah dikampanyekan pertamakali oleh seorang pensiunan dokter Gubermen Belanda, dr. Soetomo dan meletuskan puncaknya pada Sumpah Pemuda 1928. Dari sinilah kemudia kesadaran identitas penduduk nusantara sebagai suatu bangsa mulai tertanam dalam dan memotori pergerakan nasional era selanjutnya.
Dalam perkembangan selanjutnya, pergerakan kaum elitis bangsa yang baru lahir ini semakin terarah. Pemikiran mereka terarah pada satu hipotesis bahwa untuk menjamin kepentingan bangsa dapat terpenuhi, dibutuhkan kekuatan politik yang hanya mungkin didapatkan dari sebuah Negara. Maka, mereka pun mendirikan Negara.
Tujuan bangsa kita bernegara sudah secara gamblang diterangkan dalam pembukaan UUD 1945. Tujuan itu terpatri abadi salam kalimat “membentuk suatu Pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban umum.[1]
Dengan begitu, jelaslah bagi kita bangsa Indonesia bahwa tujuan kita menyatu sebagai bangsa adalah agar kita bisa menghimpun kekuatan majemuk menjadi satu kesatuan yang saling mendukung demi agenda bersama: mendapatkan kebahagiaan bersama. Juga jelaslah bagi kita, tujuan kita mengorganisasikan diri dalam sebuah Negara adalah untuk memastikan tujuan bangsa kita dapat diwujudkan.
mamang jauh dari kenyataan, namun inilah tugas kita. sebagai insan indonesia yang masih memiliki cita-cita luhur, di pundak kitalah bangsa ini meletakkan harapannya.

[1] Pembukaan UUD 1945.

Islamnya Aku



Nasi bisa dibeli, tapi rasa percaya? Seluruh uang di dunia ini pun tak cukup untuk membelinya.
Dewi ‘Dee’ Lestari (Penulis: Perahu Kertas)
Itulah ungakapan yang dicetuskan Dewi ketika Keenan, tokoh utamanya dalam novel Perahu Kertas, mengalami krisis kepercayaan. Saat itu, dunia seakan mengatakan tidak dan hanya menyisakan negasi kehidupan baginya. Yang terlihat hanya pahit, gelap, getir, perih dan duka nestapa baginya karena kehilangan kepercayaan akan hal yang paling dipercayainya secara spontan.
Sebagai kader muslim, tentunya kita sadar sepenuhnya kita telah menetapkan dalam hati bahwa kita meyakini sedalam-dalamnya keberadaan Allah sebagai Rabb dan kebenaran bahwa Muhammad sebagai Rasul-Nya yang memberitakan berita tentang makna hidup kita yang sebenar-benarnya dan bagaimana kita harus menjalaninya. Makna kesadaran ini untuk meyakini tentunya sangat fundamental, meresap dalam setiap aspek kehidupan dan menjadi patokan utama kehidupan yang multidimensi. Kesadaran inilah yang menjadi identitas kita dalam menghadapi tantangan zaman ini. Kesadaran bahwa kita adalah mahluk dengan kebutuhan utama yakni: kepercayaan.[1]
Sebagaimana Arnold Toynbee mencium kekurangan yang begitu tajam dari modernitas barat, begitu juga yang terjadi pada Cak Nur. Dengan lihai, beliau menyatakan bahwa jika memang manusia tak bahagia dengan materialism dari modernitas, maka mungkin itu bukan habitat mereka. Maka dari itu, mengarungi zaman modern tentunya harus tetap dalam habitat kita, manusia, yang memiliki kebutuhan utama: bahagia, dan kebahagiaan sejati hanya akan didapat dari kepercayaan yang mendalam.
Menurut Cak Nur, repretsentasi Tuhan yang pasti kasar dan palsu itulah sumber politeisme. Sebab mendasari setiap tuntutan kepada konsep ketuhanan yang bisa merepresentasi Tuhan adalah ketidaksabaran orang akan kenisbian diri dan kemampuannya. Dengan kata lain, tuntutan untuk merepresentasikan Tuhan timbul hanya karena orang memahami Tuhan sebagai nisbi, tanpa disadari.
Berdasarkan itu, maka iman tidak akan hilang oleh modernitas. Malah iman yang benar, yang bebas dan murni dari setiap bentuk representasi, seperti dicerminkan dalam ikonoklastik-anti gambar representasi objek-objek suci seperti Tuhan, malaikat, nabi dll-dalam agama Islam dan Yahudi, akan lebih mendapat dukungan manusia modern. Sebab dengan iman yang murni ia tetap memiliki pegangan hidup, dan bersama dengan itu sekaligus membebaskan diri dari belenggu takhayyul dan supersitisi. Dan jika dalam Kitab Suci seruan iman kepada manusia selalu disertai anjuran, dorongan, atau perintah menggunakan akal, maka sebenarnya modernitas akan dapat menjadi batu sandungan penguji kebenaran seruan suci tersebut. Dan jika kita mampu mengungkapkan dengan nalar makna meluas dan mendalam simpul-simpul nilai keagamaan seperti iman, islam, ihsan, tauhid, ikhlas, tawakkal, inabah, syukur, tasbih, tahmid, dll, maka mungkin kita akan banyak menemukan jawaban alami (fitri) untuk berbagai berbagai persoalan hidup kita, khususnya kehidupan modern yang cenderung individualistis dan atomis (depersonalized) ini.[2]
Seperti yang diungkapkan Cak Nur dalam Latar belakang Perumusan NDP HMI[3] mengungkapkan bahwa nilai-nilai memang tak dapat dirubah (e.g. tauhid), namun pengungkapan dan tekanan pada implikasinya akan dan harus terus berubah sepanjang zaman. Karena tauhidpun sepanjang sejarah wujudnya sama, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Akan tetapi, tekanan implikasinya itu berubah-ubah.

[1] NDP HMI
[2] Op.Cit, Nurcholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban, hal: 462
[3] Solichin. HMI Candradimuka Mahasiswa. Sinergi Persadatama Foundation. Jakarta:2010, hal: 215.

Kita dalam Determinasi Budaya



Seperti telah banyak disinggung dimuka bahwa pilihan yang ditawarkan penulis adalah pilihan ketiga.Pilihan yang menghadirkan jalan terjal untuk ditempuh.Namun, pilihan inilah yang memang harus ditempuh.Karena, disinilah kita menghadapi terhimpitnya modernisasi dengan westernisasi yang menjadi salah satu sumber kesulitan bangsa-bangsa bukan barat. Sebab, meskipun menurut watak dan dinamikanya sendiri modernitas adalah budaya dunia, namun pada berbagai kenyataan periferalnya ia banyak membawa serat berbagai sisa limpahan (carry over) budaya barat. Itu menegaskan betapa dalam fakta tentang modernitas yang given sekarang ini terdapat unsur-unsur budaya dimana ia dilahirrkan pertama kali, yaitu barat. Lengkap dengan pengalaman dunia barat itu terhadap, misalnya, lingkungan agama dan budaya Kristen.[1]
Pendapat Cak Nur disini menyiratkan peesan bahwa bagaimanapun globalisasi harus dijelang dan dihadapi dengan kesiapan ekstra, namun mempertahankan identitas adalah hal penting lain yang harus diperjuangkan. Dengan begitu, kita tetap menjadi kita, bukan orang lain bahkan andai bumi melebur dalam satu kerajaan sekalipun.
Lebih lanjut menjelaskan tentang pentingnya identitas dalam menghadapi globalisasi, beliau menuliskan:
“Betapapun ia pada dasarnya merupakan hal yang alami belaka, namun materialism modernitas (dalam konteks ini: globalisasi, pen) dan kecenderungan serta perjuangan manusia untuk meningkatkan taraf hidup duniawinya harus diusahakan untuk terarah, terkendali dan malah mungkin terbatasi.”[2]

[1] Op.Cit, Nurcholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban, hal: 452
[2] Ibid, hal: 459.